Bayangkan kalau setiap hari kampusmu menghasilkan ton sampah, tapi nggak ada satu pun yang dibuang ke luar gerbang. Malah, sampah itu diolah jadi pupuk, paving block, bahkan bahan bakar alternatif. Kedengarannya keren, kan? Itulah yang lagi terjadi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Baru-baru ini, Komisi VIII DPR RI datang berkunjung dan langsung takjub dengan inovasi pengelolaan sampah di sana. Mereka bahkan mendorong UIN untuk memperluas dampaknya ke lingkungan sekitar, terutama karena Tangerang Selatan lagi darurat sampah.
Di tengah masalah sampah yang semakin pelik di Indonesia, langkah UIN ini jadi angin segar. Mereka membuktikan bahwa pengelolaan sampah mandiri bukan cuma mimpi, tapi bisa jadi kenyataan. Yuk, kita bahas lebih dalam apa yang bikin program ini spesial dan kenapa ini bisa jadi inspirasi buat kita semua.
Darurat Sampah di Tangsel: Masalah yang Nggak Bisa Diabaikan
Tangerang Selatan lagi menghadapi krisis sampah yang serius. Tumpukan sampah menggunung, TPA overload, dan dampaknya ke lingkungan serta kesehatan warga semakin terasa. Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan, tapi pengolahannya masih jauh dari ideal.
Di sinilah peran kampus seperti UIN Syarif Hidayatullah jadi penting. Saat Komisi VIII DPR berkunjung pada Februari 2026, anggota seperti Haeny Relawati langsung sorot ini. Beliau bilang, “Kita tahu Tangsel sedang darurat persampahan. Saya dorong UIN untuk bantu lewat inovasinya.”
Bukan tanpa alasan. UIN sudah berhasil kelola sampahnya sendiri tanpa keluar kampus. Ini bisa jadi contoh buat masyarakat sekitar yang masih kesulitan pilah dan olah sampah.
Green Campus UIN Jakarta: Bukan Cuma Sloganan
UIN Syarif Hidayatullah punya visi besar: jadi kampus hijau yang sustainable. Salah satu pilarnya adalah pengelolaan sampah mandiri melalui program Green Campus.
Mereka nggak main-main. Sampah di kampus dipilah dari sumbernya: organik, anorganik, B3 (bahan berbahaya). Lalu diolah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Mandiri atau TPSTM KALIFA.
KALIFA singkatan dari “Kelola Alam dan Lingkungan Berfaedah”. Fasilitas ini diresmikan Januari 2026 dan bisa olah sampai 3 ton sampah per hari. Kerennya, semuanya dilakukan di dalam kampus dengan teknologi ramah lingkungan.
Rektor UIN, Prof. Asep Saepudin Jahar, pernah bilang, “Alhamdulillah, sampah UIN tidak dikeluarkan dari kampus, tapi kita kelola dan recycle.”
Cara Kerja TPSTM KALIFA: Proses yang Simpel tapi Efektif
Gimana sih prosesnya? Petugas mulai dari pemilahan:
- Sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik atau kardus dipisah untuk didaur ulang jadi produk kerajinan.
- Sampah organik jadi pakan maggot. Larva lalat BSF ini makan habis sampah organik, lalu maggotnya bisa jadi pakan ternak, residunya jadi pupuk kompos berkualitas.
- Sampah anorganik diolah jadi briket bahan bakar.
- Residu yang nggak bisa diolah dibakar di incinerator modern yang aman.
Hasilnya? Plastik daur ulang jadi paving block yang kuat untuk jalan kampus. Pupuk kompos dipakai untuk tanaman di area kampus. Lingkungan jadi lebih bersih, dan biaya pengelolaan sampah turun drastis.
Ini bukan cuma hemat, tapi juga edukatif. Mahasiswa dan civitas bisa belajar langsung soal ekoteologi – konsep Islam yang ramah lingkungan.
Kunjungan DPR: Apresiasi Tinggi dan Dorongan Perluasan
Saat kunjungan Komisi VIII DPR, rombongan dipimpin Wakil Ketua Abidin Fikri langsung kagum. “Pengelolaan sampah di UIN ini tidak keluar dari lokasi. Dikelola dengan teknologi ramah lingkungan, jadi bisa dimanfaatkan jadi pupuk sampai paving block,” katanya.
Haeny Relawati lebih spesifik. Beliau dorong UIN masuk program percontohan RDF (Refuse-Derived Fuel) – teknologi yang olah sampah jadi bahan bakar alternatif dengan kadar air super rendah.
“Saya minta UIN sampaikan ke Bappenas agar program ini lebih optimal. Sinergi dengan Tri Dharma perguruan tinggi bisa berdampak lebih luas,” ujarnya.
Rektor langsung respons positif. UIN siap kolaborasi untuk bantu masyarakat sekitar edukasi dan replikasi teknologi ini.
Manfaat Besar yang Sudah Terasa
Apa sih untungnya program ini?
- Lingkungan lebih bersih → Nggak ada sampah numpuk atau dibuang sembarangan.
- Ekonomi sirkular → Sampah jadi produk bernilai, seperti paving block yang bisa dijual atau dipakai sendiri.
- Edukasi → Mahasiswa belajar tanggung jawab lingkungan, sesuai ajaran Islam soal menjaga alam.
- Contoh nyata → Buat kampus lain atau masyarakat bahwa pengelolaan mandiri itu mungkin.
Kalau diperluas ke warga Tangsel, bayangkan berapa ton sampah yang bisa terselamatkan dari TPA.
Kita Bisa Tiru Apa dari UIN Ini?
Nggak perlu kampus besar kok untuk mulai. Ini beberapa tips sederhana yang bisa kamu terapkan di rumah atau RT:
- Pilah dari sumber — Siapkan tempat sampah terpisah: organik, anorganik, residu.
- Kompos organik — Pakai ember atau lubang tanah untuk jadikan pupuk.
- Daur ulang plastik — Kumpulin botol atau kresek, jual ke bank sampah.
- Kurangi penggunaan plastik sekali pakai — Bawa tumbler dan tas belanja sendiri.
- Edukasi tetangga — Ajak RT bikin bank sampah atau program maggot kecil-kecilan.
Mulai kecil, dampaknya bisa besar. Seperti UIN, yang dari kampus saja sudah inspirasi banyak orang.
Kesimpulan: Saatnya Bergerak Bersama
Pengelolaan sampah UIN Syarif Hidayatullah membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa atasi masalah besar. Dengan TPSTM KALIFA dan komitmen Green Campus, mereka nggak cuma jaga kampus tetap bersih, tapi juga siap bantu masyarakat sekitar.
Dorongan dari DPR jadi momentum bagus untuk perluas dampak ini. Kalau kamu tinggal di Tangsel atau daerah lain yang lagi struggle dengan sampah, yuk mulai dari diri sendiri. Siapa tahu, suatu hari program seperti ini ada di lingkunganmu juga.


