Halo, guys! Belakangan ini media sosial lagi ramai banget bahas kasus adiknya Keisya Levronka, Lexi Valleno Havlenda, yang jatuh dari lantai 6 gedung kampus Universitas Tarumanagara (Untar) dua tahun lalu. Awalnya, ibunda Keisya, Levi Leonita Davies, curhat panjang di Instagram soal penanganan yang menurutnya kurang tepat dan kampus yang seolah cuek selama ini.
Tiba-tiba, Untar keluarin klarifikasi resmi di awal Februari 2026. Banyak yang bilang kampus “bungkam dua tahun”, tapi pihak Untar bilang mereka sudah komunikasi dari dulu. Penasaran kan apa sih faktanya? Yuk, kita bahas lengkap tapi santai, biar clear dari dua sisi. Ini penting banget buat yang lagi ikutin kasus klarifikasi Untar adik Keisya Levronka ini.
Kronologi Insiden dari Sudut Pandang Keluarga
Cerita ini bermula pada 29 Maret 2024, pas hari libur nasional Wafat Isa Almasih. Lexi, yang saat itu mahasiswa Fakultas Hukum Untar angkatan 2023, lagi ikut latihan wall climbing atau caving bareng UKM Mahasiswa Hukum Pecinta Alam (MAHUPA).
Menurut ibunya, Levi, Lexi lagi latihan di area kampus. Tiba-tiba pengait alat pengamannya lepas, dan dia jatuh dari lantai 6. Bayangin aja, jatuh dari ketinggian segitu pasti serem banget.
Yang bikin keluarga kesal, penanganan awalnya. Levi cerita, anaknya dibopong, terus didudukkan di kursi roda, didorong ke taksi online, dan bahkan ditidurkan di dalam taksi. Bukan dibawa pakai ambulans atau ditangani medis proper.
“Bayangkan anak saya yang jatuh dari lantai 6 gedung kampus dibopong lalu didudukkan di kursi roda dan didorong ke kendaraan (taxi online) dan ditidurkan lagi di taxi online,” tulis Levi di Instagramnya.
Akibatnya, Lexi cedera parah banget. Sampai sekarang, dua tahun kemudian, dia masih rawat jalan, kontrol ke dokter spesialis saraf, dan terapi rutin. Keluarga merasa kampus dan UKM saling lempar tanggung jawab, dan nggak ada iktikad baik selama ini.
Klarifikasi Resmi dari Pihak Untar
Setelah viral lagi, Untar akhirnya rilis pernyataan resmi Hak Jawab pada 3 Februari 2026. Mereka bilang, laporan sebelumnya terlalu satu sisi dan nggak balanced.
Ini poin-poin utama dari klarifikasi Untar adik Keisya Levronka:
- Kegiatan latihan wall climbing itu dilakukan tanpa izin resmi dari universitas.
- Hari itu libur nasional, jadi operasional kampus terbatas, termasuk fasilitas darurat.
- Petugas keamanan kampus sudah melarang kegiatan tersebut, tapi larangan diabaikan dan latihan tetap jalan.
- Untar sudah komunikasi langsung dengan keluarga, termasuk pertemuan terakhir pada 3 Februari 2026.
- Mereka tawarkan bantuan kemanusiaan dan akademik secara proporsional, tapi belum ada kesepakatan karena beda ekspektasi.
- Kampus menyesalkan insiden ini dan komitmen perkuat pengawasan kegiatan mahasiswa biar sesuai prosedur keselamatan.
Untar juga bilang, mereka nggak bungkam kok. Proses penyelesaian dilakukan secara cermat, dan mereka hormati keputusan keluarga yang menolak beberapa bantuan yang ditawarkan.
Perbedaan Poin antara Keluarga dan Kampus
Nah, di sinilah letak bedanya yang bikin kasus ini panjang:
| Poin | Versi Keluarga | Versi Untar |
|---|---|---|
| Izin Kegiatan | Latihan resmi UKM di kampus | Tanpa izin universitas, dilarang keamanan |
| Tanggal & Kondisi Kampus | April 2023/Maret 2024, tapi fokus ke penanganan | 29 Maret 2024, libur nasional, fasilitas terbatas |
| Penanganan Awal | Salah prosedur, pakai taksi online | Nggak dibahas detail, tapi karena tanpa izin & libur |
| Tanggung Jawab | Kampus cuek 2 tahun | Sudah dialog & tawarkan bantuan, tapi belum sepakat |
Intinya, keluarga merasa ada kelalaian pengawasan dan penanganan, sementara Untar menekankan bahwa kegiatan nggak resmi jadi tanggung jawabnya terbatas.
Dampak Buat Lexi dan Pelajaran Buat Kita Semua
Yang paling kasihan tentu saja Lexi. Cedera dari jatuh ketinggian itu nggak main-main – bisa pengaruh ke tulang belakang, saraf, dan pemulihan jangka panjang. Sampai sekarang dia masih terapi rutin, dan keluarga pasti capek fisik-mental.
Kasus ini juga bikin kita mikir ulang soal keselamatan di kegiatan kampus. UKM pecinta alam memang seru, tapi prosedur izin, pengawasan, dan alat safety harus nomor satu. Apalagi kalau latihan ekstrem seperti wall climbing atau caving.
Buat mahasiswa lain, ini reminder: patuhi aturan kampus, jangan maksa kalau dilarang. Buat kampus, mungkin perlu sistem pengawasan yang lebih ketat biar kejadian serupa nggak terulang.
Kesimpulan: Masih Belum Final?
Sampai saat ini, belum ada titik temu antara keluarga dan Untar. Klarifikasi ini setidaknya meluruskan beberapa info yang beredar, tapi keluarga mungkin masih punya versi sendiri. Semoga ada penyelesaian yang adil ya, biar Lexi bisa fokus pemulihan.
Kalian gimana pendapatnya soal klarifikasi Untar adik Keisya Levronka ini? Share di komentar kalau ada info tambahan atau opini. Yang penting, kita doain Lexi cepat sembuh total!
