Kasus pria amputasi kaki sendiri demi masuk kedokteran mengguncang banyak orang di awal 2026. Suraj Bhaskar, pemuda dari Jaunpur, Uttar Pradesh, India, diduga memotong sebagian kakinya sendiri agar memenuhi syarat kuota penyandang disabilitas (PwD) dalam ujian NEET untuk program MBBS. Tindakan ekstrem ini muncul setelah ia gagal dua kali dalam ujian masuk kedokteran yang sangat kompetitif. Polisi kini menyelidiki kasus tersebut sebagai upaya rekayasa untuk mendapatkan keuntungan admission.
Artikel ini mengupas lengkap kasus Suraj Bhaskar. Anda akan memahami kronologi kejadian, bukti-bukti yang ditemukan, sistem kuota disabilitas di NEET, tekanan kompetisi ujian, dampak kesehatan mental calon dokter, serta implikasi etika dan hukumnya. Kasus ini menyoroti sisi gelap persaingan masuk fakultas kedokteran di India sekaligus mengingatkan pentingnya dukungan psikologis bagi para aspiran.
Latar Belakang Kehidupan Suraj Bhaskar
Suraj Bhaskar berusia sekitar 20-24 tahun dan berasal dari desa Khalilpur di distrik Jaunpur, Uttar Pradesh. Ia lulusan D-Pharma dan telah mempersiapkan diri untuk NEET guna mewujudkan cita-cita menjadi dokter. Namun, kegagalan dua kali dalam ujian tersebut membuatnya mengalami tekanan berat. Ia pernah mencoba memperoleh sertifikat disabilitas secara sah karena kelainan kecil pada tangannya, tetapi permohonan itu ditolak.
Kegagalan berulang ini mendorong Suraj merencanakan langkah ekstrem. Ia menulis target pribadi di buku harian, termasuk komitmen kuat menjadi dokter MBBS pada tahun 2026. Pacarnya mengungkapkan bahwa Suraj sudah lama terobsesi dengan jalur disabilitas untuk masuk kuliah kedokteran. Persiapan itu mencakup berbagai upaya sebelum insiden terjadi.
Kronologi Kejadian Amputasi
Pada malam 17 Januari 2026, Suraj diduga membius dirinya sendiri menggunakan suntikan dan kemudian memotong sebagian kaki kirinya dengan mesin gerinda di sebuah bangunan kosong. Potongan itu sangat rapi, berbeda dengan luka akibat serangan senjata. Ia lalu mengatur lokasi kejadian agar tampak seperti korban penyerangan. Keesokan harinya, kakaknya, Akash Bhaskar, melaporkan ke polisi bahwa Suraj diserang orang tak dikenal dan ditemukan tidak sadar dengan kaki terpotong.
Polisi langsung mendaftarkan kasus percobaan pembunuhan terhadap pelaku tak dikenal. Suraj dirawat di rumah sakit swasta di Jaunpur dan kemudian dirujuk ke pusat trauma. Bagian kaki yang terpotong belum ditemukan saat laporan awal. Suraj sempat berubah-ubah cerita selama pemeriksaan, yang semakin menimbulkan kecurigaan petugas.
Bukti dan Investigasi Polisi
Penyelidikan mendalam mengungkap banyak inkonsistensi dalam keterangan Suraj. Petugas menemukan jarum suntik dan vial anestesi di lokasi kejadian. Bukti forensik menunjukkan luka bersih khas pemotongan mesin, bukan kekerasan. Pemeriksaan ponsel Suraj mengarah ke nomor pacarnya, yang kemudian memberikan keterangan penting tentang obsesinya.
Buku harian Suraj menjadi bukti krusial. Ia menulis kalimat tegas: “I will become an MBBS doctor in 2026.” Polisi juga mengonfirmasi upaya sebelumnya Suraj mendapatkan sertifikat disabilitas yang gagal. Saat ini, penyidikan masih berlangsung. Polisi meminta pendapat hukum untuk menentukan pasal yang dikenakan, termasuk dugaan menyesatkan proses penyelidikan. Suraj tetap menjalani perawatan medis sementara kasus berproses.
Sistem Kuota Disabilitas dalam NEET
India menyediakan reservasi horizontal 5 persen untuk kandidat PwD di seluruh kategori kursi MBBS dan BDS melalui NEET UG. Syarat utamanya adalah memiliki benchmark disability minimal 40 persen sesuai Rights of Persons with Disabilities Act 2016. Sertifikat ini diterbitkan oleh dewan medis pemerintah setelah pemeriksaan menyeluruh di pusat-pusat resmi seperti VMMC Safdarjung Hospital di Delhi atau AIIMS.
Kandidat PwD juga mendapatkan fasilitas tambahan saat ujian, seperti scribe dan tambahan waktu satu jam. Namun, mereka tetap harus memenuhi passing marks yang ditentukan, misalnya persentil ke-45 untuk kategori General-PwD. Sertifikat berlaku lima tahun atau permanen jika disabilitas tidak berubah. Proses pengajuan ketat untuk mencegah penyalahgunaan.
Tekanan Kompetisi Ujian Masuk Kedokteran di India
NEET menarik lebih dari 20-24 lakh peserta setiap tahunnya untuk memperebutkan sekitar 1,08-1,18 lakh kursi MBBS di seluruh India. Kursi pemerintah terbatas sekitar 55.000-59.000, sementara sisanya di swasta. Cut-off untuk kategori umum sering mencapai 620-680+ poin di All India Quota, yang membuat persaingan sangat ketat.
Banyak calon mengikuti coaching intensif di pusat-pusat seperti Kota, Rajasthan. Biaya tinggi, jadwal padat, dan ekspektasi orang tua menambah beban. Kegagalan berulang sering kali memicu putus asa, seperti yang dialami Suraj setelah dua kali gagal.
Dampak Kesehatan Mental pada Calon Mahasiswa Kedokteran
Tekanan NEET berkontribusi besar terhadap krisis kesehatan mental di kalangan siswa India. Data NCRB menunjukkan ribuan kasus bunuh diri pelajar setiap tahun, dengan peningkatan signifikan terkait ujian kompetitif. Di Kota saja, puluhan kasus bunuh diri dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir akibat stres akademik, isolasi sosial, dan harapan tinggi orang tua.
Gejala umum meliputi kecemasan berat, depresi, dan ideasi bunuh diri. Suraj sendiri mengalami stres mental pasca-kegagalan NEET. Kasusnya mengingatkan bahwa ekstremisme bisa muncul ketika dukungan psikologis tidak memadai. Mahkamah Agung India telah mengeluarkan pedoman untuk institusi pendidikan dan pusat coaching agar meningkatkan layanan konseling.
Implikasi Etika dan Hukum Kasus Ini
Kasus Suraj menimbulkan pertanyaan etis mendalam. Seorang calon dokter yang rela melukai diri sendiri menimbulkan keraguan atas integritas dan empati yang seharusnya dimiliki profesi medis. Jika terbukti, tindakan ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap kuota disabilitas yang sebenarnya dimaksudkan untuk inklusi.
Secara hukum, Suraj berisiko dituntut atas penyesatan penyidikan dan kemungkinan pasal penipuan. Kasus ini juga mendorong otoritas medis memperketat verifikasi sertifikat disabilitas. Di sisi lain, ia menghadapi konsekuensi seumur hidup berupa disabilitas fisik dan trauma psikologis.
Pelajaran dan Rekomendasi
Kasus ini menekankan perlunya reformasi sistem pendidikan tinggi kedokteran. Pemerintah dan institusi harus memperluas akses kursi MBBS, meningkatkan layanan kesehatan mental di pusat coaching, serta mempromosikan kesadaran akan jalur karier alternatif di bidang kesehatan. Orang tua dan siswa perlu membangun komunikasi terbuka tentang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Institusi pendidikan sebaiknya menerapkan skrining rutin kesehatan mental, program konseling, dan kebijakan anti-tekanan berlebih. Masyarakat luas dapat mendukung dengan mengurangi stigma terhadap kegagalan ujian dan mendorong inklusi disabilitas yang autentik.
Kesimpulan
Kasus pria amputasi kaki sendiri demi masuk kedokteran mengungkap betapa ekstremnya tekanan yang dihadapi aspiran NEET. Suraj Bhaskar melakukan tindakan drastis setelah gagal dua kali, didorong obsesi dan kurangnya dukungan. Investigasi polisi menemukan bukti self-inflicted injury, sementara sistem kuota PwD 5% tetap memerlukan verifikasi ketat minimal 40% disabilitas.
Kasus ini menjadi pengingat mendesak tentang pentingnya keseimbangan antara ambisi dan kesejahteraan mental. Peningkatan jumlah kursi, akses konseling, serta pendekatan holistik pendidikan dapat mencegah tragedi serupa. Mari dukung calon dokter masa depan dengan sistem yang lebih manusiawi dan adil.
