Bayangin aja, kota sebesar Balikpapan yang dikenal sebagai kota minyak, setiap hari produksi sampahnya bisa mencapai 500-550 ton. Itu artinya, kalau nggak dikelola dengan baik, bisa jadi bom waktu buat lingkungan. Tapi, di balik tantangan itu, ada juga cerita inspiratif dari masyarakat yang sudah mulai bergerak. Kunjungan menteri ini seperti sinyal bahwa pemerintah pusat serius dorong perubahan.
Artikel ini bakal bahas detail kunjungan tersebut, kondisi terkini pengelolaan sampah Balikpapan, apa yang sudah bagus, dan apa yang masih perlu dibenahi. Yuk, kita simak bareng!
Apa Saja yang Dilihat Menteri Saat Blusukan di Balikpapan?
Kunjungan Menteri Hanif ke Balikpapan terjadi baru-baru ini, sekitar awal Februari 2026. Dia nggak cuma duduk di ruang meeting, tapi turun langsung ke lapangan. Mulai dari permukiman padat penduduk, pasar tradisional, sampai kampung seperti Kampung Bungas.
Di Kampung Bungas, misalnya, menteri lihat aktivitas hidroponik dan pemilahan sampah yang dilakukan warga. Warga di sana bahkan sampaikan kebutuhan mendesak seperti mesin pencacah plastik. Ini menunjukkan bahwa ada inisiatif bagus dari bawah, tapi masih butuh dukungan alat.
Selain itu, menteri juga pantau fasilitas seperti Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dan Material Recovery Facility (MRF). Dia dialog langsung dengan warga dan pedagang pasar, nanya soal kebiasaan buang sampah sehari-hari.
Menurut laporan, Balikpapan jadi salah satu kandidat kuat penerima Adipura. Penghargaan ini diberikan ke kota-kota yang berhasil jaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidupnya. Kunjungan ini seperti “sidak” untuk pastikan semua data di lapangan sesuai.
Kondisi Terkini Pengelolaan Sampah Balikpapan: Angka dan Realita
Balikpapan punya tantangan besar soal sampah. Setiap hari, kota ini hasilkan sekitar 550 ton sampah. Sebagian besar berakhir di TPA Manggar, yang jadi tempat pembuangan akhir utama.
TPA Manggar ini sudah beroperasi lama, dan ada rencana sulap jadi sumber energi berbasis sampah. Tapi, realitanya, masih banyak sampah yang open dumping, alias ditimbun begitu saja tanpa pengolahan maksimal.
Pengurangan sampah di Balikpapan sudah capai sekitar 27-30 persen lewat program daur ulang dan pemilahan. Ada juga TPST di beberapa titik, seperti Karang Joang, yang bisa olah puluhan ton sampah per hari jadi kompos atau bahan baku lain.
Tapi, masalah utama adalah sampah plastik. Plastik dominan di sampah laut dan pantai Balikpapan, seperti di Lamaru. Ini bikin ekosistem rusak, apalagi Balikpapan punya pesisir indah dan satwa endemik seperti pesut Mahakam.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Menteri Hanif sendiri bilang, pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Balikpapan belum merata. Hanya beberapa wilayah yang sudah bagus, sisanya masih perlu dibenahi.
Permukiman padat dan pasar tradisional sering jadi sumber sampah liar. Kurangnya kesadaran dan fasilitas pemilahan di tingkat rumah tangga bikin sampah campur aduk.
Selain itu, volume sampah terus naik seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Kalau nggak ada inovasi besar, TPA Manggar diprediksi penuh dalam beberapa tahun ke depan.
Cerita Inspiratif: Upaya Positif dari Masyarakat Balikpapan
Meski ada tantangan, Balikpapan punya banyak contoh bagus. Di Kampung Bungas, warga aktif pilah sampah organik untuk kompos dan hidroponik. Hasilnya, lingkungan lebih hijau dan sampah berkurang signifikan.
Ada juga startup lokal seperti Ciro Waste yang ubah sampah jadi produk bernilai. Atau program Waste to Energy yang manfaatkan gas metana dari sampah.
Pemkot Balikpapan juga bangun MRF dan TPST modern. Beberapa bahkan dapat penghargaan nasional seperti Sutami Awards karena olah sampah berkelanjutan.
Balikpapan pernah beberapa kali raih Adipura, bukti bahwa kota ini punya potensi besar jadi role model pengelolaan sampah di Kalimantan.
Langkah Praktis yang Bisa Ditiru
Kalau kamu tinggal di Balikpapan atau kota lain, ini beberapa tips sederhana dari pengalaman lokal:
- Pilah sampah dari rumah: Organik, anorganik, dan B3 (bahan berbahaya).
- Manfaatkan bank sampah terdekat untuk tukar sampah jadi uang.
- Kurangi plastik sekali pakai, bawa tas belanja sendiri.
- Ikut kegiatan komunitas seperti bersih pantai atau tanam mangrove.
- Edukasi anak-anak soal pentingnya buang sampah pada tempatnya.
Kecil-kecil seperti ini, kalau dilakukan bareng-bareng, dampaknya luar biasa.
Apa Pesan Menteri Hanif dan Harapan ke Depan?
Dalam kunjungannya, Menteri Hanif tekankan bahwa pengelolaan sampah harus praktis dan mudah dijalankan warga. “Jangan terlalu rumit, yang penting konsisten,” katanya kurang lebih.
Dia juga soroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta. Target nasional tutup TPA open dumping di 2026 jadi dorongan besar buat Balikpapan percepat inovasi.
Dengan kandidat Adipura, Balikpapan punya peluang besar tunjukkan kemajuan. Kalau berhasil, bisa jadi contoh buat kota-kota lain di Indonesia.
Kesimpulan: Saatnya Balikpapan Lebih Serius Soal Sampah
Kunjungan Menteri LH Hanif Faisol ke Balikpapan jadi pengingat bahwa pengelolaan sampah bukan cuma tanggung jawab pemerintah, tapi kita semua. Ada progres bagus, tapi masih banyak PR yang harus diselesaikan bareng.
Kalau masyarakat dan pemkot terus berkolaborasi, Balikpapan bisa jadi kota bersih idaman. Yuk, mulai dari diri sendiri. Siapa tahu, tahun ini Adipura kembali ke tangan Balikpapan!
Apa pendapatmu soal pengelolaan sampah di kotamu? Share di komentar ya!



